Holiday in Japan: Penginapan & Transport (beli JR Pass, harus kah?)

“Duh di Jepang tu taxi mahal lho Yu, aku abis 2 juta dari airport ke hotel”

“Neng lu siapin duit yang banyak ya, nginep disana tu boros banget”

“Kalau mau praktis, beli tiket kereta JR Pass aja kak, 3.5juta udah bisa kemana-mana”

Itulah beberapa pesan dan kesan dari teman-teman aku yang sukses bikin aku jiper sebelum memulai liburan di Jepang.ย  Aku sih jujur langsung mikir ya, “ini kayaknya gw belom berangkat udah bangkrut duluan”. Untunglah aku masih ada waktu buat googling dan tanya-tanya, termasuk ke ci Yenny (@yennymakanmulu) – thanks a lot lho ci..hahahaha. Jadilah trip Jepang kali ini ga seboros yang kukira dan alhamdulillah yah ga bikin bangkrut ๐Ÿ˜€

Transport

Transport di Jepang itu kurang lebih sama kayak di Singapore, dengan sistem kereta yang yah..10x lebih ribet dari MRT Sing..hahahahha. Tapi jangan khawatir, ga bakal nyasar!

20180503_091242

Kemarin ini pas aku sampai di bandara (aku mendarat di Kansai, Osaka), aku langsung menuju ke ticketing office. Disana, staffnya bisa bahasa Inggris dan sangat helpful. Karena aku akan stay 4 hari di Osaka, jadi aku beli kartu namanya ICOCA. Kalau di Indo, dia kayak Flazz atau e-money gitu. Bisa buat tiket kereta (kemana aja, bahkan di luar Osaka), bisa buat jajan di vending machine, dan ga ada masa berlakunya. Kalau saldonya habis, tinggal top up di mesin otomatis. ICOCA ini pas pertama beli kena harga JPY2000 (Rp 260,000). Nah, buat beli ICOCA ini hanya bisa cash. Kemarin kakakku coba bayar pake CC ternyata ga bisa.

Ok, ICOCA sudah di tangan, aman!

Next adalah beli tiket kereta Shinkansen. Nah…ini dia ni yang sebelumnya bikin aku stress berat. Hahaha (lebay ya? emang aku lebay sih :p ) waktu itu aku sempat datang ke Japan Travel Fair di Kota Kasablanka, terus dikasihtau sebaiknya beli JR Pass, yang harganya 3,5juta aja sodara sodara! Sumpah aku sedih banget pas tau harus keluar 3,5juta hanya untuk tiket kereta.

Well, setelah aku googling, JR Pass ini adalah tiket seperti ICOCA yang juga bisa dipakai untuk naik Shinkansen (kereta cepat). Memang harganya mahal, tapi worth it buat kalian yang memang akan pindah-pindah kota dan harus naik Shinkansen lebih dari 2x. Tapi dalam itinerary aku, aku hanya perlu naik Shinkansen 1x yaitu dari Osaka ke Tokyo. So artinya..GA PERLU BELI JR PASS! Yeayy aku seneng banget pas tau ini.

Di ticketing office yang tempat aku beli ICOCA, jadinya aku sekalian beli tiket Shinkansen Osaka-Tokyo. Nah, yang ini bisa ni dibayar pake CC. Untuk tiket Shinkansen tipe Nozomi jurusan Osaka-Tokyo, per orang kita kena JPY13,620 (Rp 1,770,600). Memang..tetep mahal ๐Ÿ˜€ tapi, ga 3,5juta juga kan? Hehehe…

Sebenernya aku pernah googling, bisa ga sih kalo ga usah pake Shinkansen, kereta biasa aja gitu. Jawabannya: bisa. Tapi, yah lama banget jadinya. Misalnya, dengan Shinkansen hanya 3 jam, sementara tanpa Shinkansen bisa lebih dari 6 jam. Sayang kan waktunya, jadi ga bisa maksimal jalan-jalannya.

Baiklah! Urusan tiket beres, sekarang langsung ke tempat penginapan ๐Ÿ˜‰

(dari airport ke tempat penginapan kartu ICOCA udah bisa dipake yah. Dari Kansai ke penginapanku kereta cuma kena JPY920 alias Rp 119,600 )

PS: buat pergi kemana-mana pakai Google maps aja ya, gampang banget tinggal ikutin petunjuk, kalau bingung di semua stasiun ada petugas yang siap membantu.

 

Penginapan

Karena itinerary aku urutannya Osaka 4 hari lanjut Tokyo 4 hari, jadi aku book penginapan di 2 kota ini. Oia, aku sempat ke Kyoto, tapi tektok alias pulang hari jadi ga nginep di Kyoto. Well, Kyoto deket sih dari Osaka kayak Jakarta-Bogor gitu lah, sejam kurang lebih.

Penginapan aku di Osaka & Tokyo aku book lewat Agoda. Dan, semuanya ini apartemen, bukan hotel. Buat yang pergi sendiri atau cuma berdua, gpp juga sih coba book hotel. Kalau aku karena perginya sekeluarga jadi lebih efisien tinggal di apartemen.

Di Osaka aku tinggal di EXE Residence Tower, lokasinya di area Namba, pas di belakang Hillarys Hotel. Aku sempat was-was karena pas mau booking ini mereka ga akan kasih alamat lengkap, dan ga akan kasih nomer ownernya. Sampai kita book, bayar, dan ada booking number dari Agoda, baru lah tu aku terima Check-in instruction, alamat lengkap, no.HP dan e-mail si owner.

Cara check-in di apartemen ini menurutku unik banget, kita cukup kirim e-mail ke ownernya, kasihtau kita datang hari apa sekitar jam berapa, nanti kita akan dikasih instruksi buat ke ruang mailbox / locker di lantai dasarnya. Dikasih nomer lockernya dan ternyata di dalam locker udah ada kuncinya. Praktis! Tanpa perlu ketemu resepsionis..hahahahah.

Aku dapat kamar di lantai 17, dengan pemandangan area Namba yang super hectic tapi menyenangkan. Di kamar ini lengkap banget, ada mesin cuci, kulkas, AC, microwave, sandal kamar, jemuran, sandal jemuran, bahkan sampai peralatan masak kayak panci gitu ada semua.

Tapi, memang harus diakui, tinggal di Jepang itu kayak gang senggol ๐Ÿ˜€ serba terbatas ruangnya. Aku mau ambil makan, Papaku mau ke toilet, kita tubrukan, yah gitu lah kurang lebih. Hehehe.

Oia peraturan nginep disini adalah: pokoknya pas check out itu kamar bentukannya harus balik lagi kayak pas kita check in. So, jangan lupa dirapiin yaaa. Buang sampah juga jangan lupa.

4 hari kemudian aku pindah ke Tokyo. Tempat aku menginap kali ini bukan apartemen, lebih kayak rumah kontrakan gitu. Lokasinya juga nyempil di dalam area perumahan. Tapi seru juga sih tinggal disini jadi aku setiap hari bisa liat keseharian warga lokal. Ada yang nganter anak sekolah, ada yang buru-buru berangkat ngantor, ada yang tiap pagi sibuk buka warung makan, seru deh. Hehehe

Nah, tempat di Tokyo ini jujur jauh banget beda dari yang di Osaka. Not fancy at all. Tapi menurut aku dan keluargaku, cukup buat kita istirahat, nyaman, dan fasilitas kayak mesin cuci dan pantry tetap ada.

Oia pas baru sampai di Tokyo, dengan masih bawa koper segede-gede gaban, kita sempet bingung cari jalan di dalam perumahan itu. Tapi, jangan khawatir, kalau kata orang yang aku ketemu di Tokyo, “Japanese people is nice, but, shy”. Intinya, walaupun mereka terlihat cuek dan lagi buru-buru, tanya aja gpp, mereka akan jawab dengan ramah dan sabar banget.

All in all, trip kemarin di Jepang menyenangkan, terutama buat Papaku (karena dia bisa bahasa Jepang hahahah). Dan untungnya ga seboros yang aku duga (yeay!!).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s